PGE–PLN Indonesia Power Sepakati Tarif PLTP Ulubelu Bottoming Unit, Dorong Akselerasi Transisi Energi Nasional
Tomohon, Desember 2025 — Sinergi dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor energi, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero), kembali mencatatkan langkah strategis dalam pengembangan energi panas bumi nasional.
Melalui afiliasinya, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) yang berkolaborasi dengan PT PLN Indonesia Power (PLN IP), resmi mencapai kesepakatan tarif listrik dengan PLN untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu Bottoming Unit berkapasitas 30 megawatt (MW).
Kesepakatan tarif ini menjadi tonggak penting bagi pengembangan pembangkit panas bumi berbasis teknologi binary pertama yang dikembangkan bersama oleh PGE dan PLN IP di wilayah kerja eksisting PGE Ulubelu. Proyek Ulubelu Bottoming Unit memanfaatkan teknologi co-generation untuk mengoptimalkan panas sisa, sekaligus menjadi bagian dari tahapan pengadaan Independent Power Producer (IPP) di PLN.
Baca juga: AQUA Elektronik Hadirkan Freezer AQF-560EG: Kapasitas Besar dan Teknologi Pendinginan Cepat
Direktur Eksplorasi & Pengembangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Edwil Suzandi, menyampaikan, bahwa kesepakatan ini membuka jalan bagi tahapan lanjutan proyek. Proses pendirian joint venture, pengadaan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC), serta Power Purchase Agreement (PPA) akan dipercepat dan dilakukan secara simultan mulai Januari 2026, guna mengejar target Commercial Operation Date (COD) pada 2027.
“Transisi energi nasional perlu didorong secara konsisten melalui optimalisasi pemanfaatan energi bersih dan andal yang tersedia di dalam negeri. Sinergi PGE dengan PLN Indonesia Power dalam pengembangan Ulubelu Bottoming Unit diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah kerja eksisting PGE lainnya, seperti Lahendong di Sulawesi Utara dan Lumut Balai di Sumatera Selatan,” ujar Edwil.
Pengembangan Ulubelu Bottoming Unit juga sejalan dengan strategi jangka menengah PGE untuk mencapai target kapasitas terpasang 1 gigawatt (GW) dalam dua hingga tiga tahun ke depan, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Sebelumnya, pada Agustus 2025, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pengembangan energi panas bumi di 19 proyek eksisting dengan total kapasitas mencapai 530 MW. Sinergi tersebut difasilitasi oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara/Danantara Indonesia).
Baca juga: CIMB Niaga Kucurkan Green Financing Sebesar USD18,5 Juta ke IKPT
Seiring percepatan pengembangan proyek eksisting, PGE dan PLN IP juga menyepakati Perjanjian Komitmen Konsorsium untuk pengembangan PLTP Ulubelu Bottoming Unit (30 MW) serta PLTP Lahendong Bottoming Unit 1 (15 MW). Kedua proyek ini diproyeksikan menambah kapasitas pembangkit hingga 45 MW melalui pemanfaatan teknologi yang lebih optimal.
Secara keseluruhan, kerja sama strategis ini membuka potensi pengembangan tambahan kapasitas panas bumi hingga 1.130 MW, dengan estimasi nilai investasi mencapai US$5,4 miliar. Potensi tersebut berasal dari optimalisasi wilayah kerja yang telah berproduksi, sekaligus membuka peluang pengembangan di area prospektif baru.
Sebagai pionir pengembangan energi panas bumi di Indonesia dengan pengalaman lebih dari 40 tahun, PGE saat ini mengelola kapasitas terpasang 727 MW dari enam wilayah operasi. Perusahaan juga tengah mengembangkan sejumlah proyek strategis, termasuk PLTP Hululais Unit 1 & 2 (110 MW) serta proyek co-generation lainnya dengan total kapasitas mencapai 230 MW.
