Sudah Lama Masuk WAG Tapi Tidak Aktif: Bertahan, Diam, atau Keluar?

Jakarta, Januari 2026 – Hampir semua orang punya satu atau dua—atau belasan—WhatsApp Group (WAG) yang sudah lama diikuti, tapi isinya jarang dibaca. Notifikasinya aktif, keterlibatan kita pasif. Kadang cuma jadi penonton, kadang malah di-mute permanen.

Masalahnya bukan soal malas atau enggan bertegur sapa secara daring. Lebih sering, kita merasa sudah tidak relevan atau tidak cocok lagi dengan lalu lintas percakapan di WAG.

Berikut adalah beberapa contoh WAG yang merasa kita kurang nyaman atau merasa tidak relevan lagi: WAG alumni yang berubah jadi etalase jualan dan debat politik, WAG rekan kerja lama, padahal kita sudah resign bertahun-tahun, WAG keluarga (keluarga besar) yang obrolannya makin jauh dari nilai, minat, atau kenyamanan pribadi.

Baca juga: Mau Nutup Akun Medsos? Pertimbangkan dulu Beberapa hal ini

Masalahnya muncul saat ingin keluar. Ada rasa tidak enak. Takut dianggap memutus silaturahmi, sombong, atau takut dinilai berubah. Akhirnya, banyak orang memilih bertahan—secara teknis ada, secara emosional tidak.

Psikolog klinis Indonesia Kirana Rahmawati, M.Psi menjelaskan bahwa kelelahan sosial di ruang digital sering muncul karena ketidaksesuaian antara peran sosial dan kondisi psikologis saat ini. Kita bertahan bukan karena mau, tapi karena merasa “seharusnya”. Padahal, relasi—termasuk yang digital—ikut berubah seiring fase hidup. Wajar jika sesuatu yang dulu relevan, kini terasa asing.

Langkah paling sehat sering kali bukan langsung keluar, tapi mengatur ulang keterlibatan. Mute, arsipkan, dan merespons seperlunya. Ini bukan sikap pasif-agresif, melainkan cara menjaga energi mental tanpa menyakiti orang lain.

Menurut psikolog keluarga Roslina Verauli, M.Psi, menjaga hubungan tidak selalu berarti hadir penuh di setiap ruang komunikasi. Hubungan yang dewasa justru ditandai oleh batas yang jelas dan sehat, bukan keterlibatan tanpa henti.

Kalau akhirnya memilih keluar, lakukan dengan tenang. Tidak perlu pengumuman panjang. Tidak perlu alasan berlebihan. Keluar dari WAG bukan berarti keluar dari hubungan.

Baca juga: 5 Fase Hidup Penuh Risiko yang Mesti Dipikirkan Kaum Muda

Untuk WAG keluarga, tantangannya memang lebih kompleks. Di sini, kuncinya bukan left group, tapi mengelola jarak emosional. Tidak semua pesan harus ditanggapi. Tidak semua topik harus direspons. Diam kadang adalah bentuk kedewasaan, bukan pembangkangan.

Pada akhirnya, WAG hanyalah alat komunikasi, bukan ukuran kedekatan. Ia seharusnya membantu hidup, bukan membuat kita terjebak dalam relasi yang sudah tidak lagi kita jalani dengan utuh.

Dan jika hari ini kamu masih bertahan di grup yang sudah lama tidak kamu rasakan, itu bukan kegagalan sosial. Bisa jadi, itu tanda bahwa kamu sedang belajar memilih—mana relasi yang perlu dijaga, dan mana yang cukup dihormati dari kejauhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *