Sulawesi Utara Disiapkan Jadi Etalase Panas Bumi Dunia
Manado, 13 Februari 2026 — Energi panas bumi bukan lagi sekadar sumber listrik alternatif. Di Sulawesi Utara, ia mulai diposisikan sebagai fondasi ekonomi hijau daerah — dari energi, industri, hingga pariwisata.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan panas bumi melalui partisipasi dalam seminar dan penjajakan kerja sama sister city antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Selandia Baru di Manado (12/2).
Baca juga: OCBC Salurkan Pembiayaan Berkelanjutan Rp113 Miliar untuk Proyek PLTS
Kerja sama ini membuka peluang kolaborasi lintas sektor, mulai dari energi bersih, pertanian, pariwisata berkelanjutan, perdagangan, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Kedua wilayah dinilai memiliki kesamaan: potensi panas bumi besar, kekuatan sektor wisata dan agrikultur, serta karakter budaya yang kuat.
Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia Phillip Taula menilai wilayah kerja panas bumi Lahendong memiliki peran strategis bagi ekonomi daerah. “Potensi panas bumi di Lahendong merupakan aset strategis yang luar biasa. Dengan kepemimpinan daerah yang kuat, panas bumi dapat menjadi industri jangkar yang menarik investasi dan membentuk klaster industri hijau,” ujarnya.
Pemerintah daerah berharap kerja sama ini tidak berhenti di level wacana. “Melalui program ini kami berharap terjadi transfer pengetahuan dan teknologi yang konkret, peningkatan kapasitas SDM, serta peluang investasi baru yang saling menguntungkan,” kata Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Sulawesi Utara Denny Mangala.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi juga mendorong provinsi ini menjadi pelopor pemanfaatan energi hijau nasional. “Kita ingin memaksimalkan panas bumi tidak hanya untuk listrik, tetapi juga untuk kesejahteraan. Sulawesi Utara diharapkan menjadi provinsi terdepan menuju the greenest electricity,” ujarnya.
Saat ini PGE Area Lahendong mengoperasikan enam PLTP berkapasitas total 120 MW, sekitar 24 persen kebutuhan listrik Sulawesi Utara, sekaligus menekan emisi hingga 624 ribu ton CO₂ per tahun. Perusahaan juga tengah mengembangkan Unit 7 & 8 berkapasitas 2×20 MW serta binary unit 15 MW.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyebut kontribusi panas bumi tidak hanya pada energi.
“Selain menghasilkan listrik bersih, PGE berkontribusi pada pendapatan daerah melalui PNBP panas bumi, bonus produksi, serta 1 persen pendapatan yang langsung masuk kas daerah,” jelasnya.
Baca juga: CIMB Niaga Kucurkan Green Financing Sebesar USD18,5 Juta ke IKPT
Ia menambahkan pengembangan panas bumi kini diarahkan ke penciptaan nilai tambah ekonomi.
“Kami tidak hanya bicara listrik, tetapi pengembangan rantai nilai panas bumi. Di Lahendong sudah ada berbagai pilot project pemanfaatan langsung, dan kami optimistis kerja sama ini bisa menjadi model kolaborasi lintas negara di tingkat daerah,” katanya.
Rombongan Selandia Baru juga mengunjungi Pabrik Gula Aren Masarang di Tomohon serta Lao-Lao Geopark untuk melihat pemanfaatan panas bumi di luar pembangkit listrik — termasuk produksi gula aren ramah lingkungan dan wisata edukatif energi terbarukan.
