56% Karyawan Tanpa Dana Darurat, Perusahaan Ikut Menanggung Beban
Jakarta, 28 April 2026 – Tekanan finansial karyawan ternyata bukan lagi urusan pribadi, melainkan telah menjelma menjadi risiko bisnis yang nyata. Survei terbaru dari FINETIKS menunjukkan, 56% karyawan profesional di Indonesia belum memiliki dana darurat yang memadai. Lebih jauh, 72% mengaku kondisi finansial mereka berdampak langsung pada performa kerja.
Data ini menggeser cara pandang lama: financial wellness bukan sekadar benefit tambahan, melainkan bagian dari strategi bisnis yang tak bisa diabaikan.
Survei yang dilakukan sepanjang Desember 2025 hingga Maret 2026 ini mencakup berbagai sektor—mulai dari teknologi hingga kreatif—dan menemukan pola yang konsisten. Tekanan finansial hadir lintas industri, tanpa memandang tingkat literasi keuangan.
Masalahnya cukup mendasar. Sebanyak 58% responden terpaksa menunda kebutuhan penting karena arus kas yang sempit, sementara 51% masih memiliki utang konsumtif aktif seperti PayLater, kartu kredit, hingga pinjaman online. Tak heran jika 93% responden menyatakan kebutuhan akan program financial wellness dari perusahaan.
Baca juga: Hidup Tanpa Tabungan: Bertahan atau Menunggu Keajaiban?
“Kesehatan finansial karyawan seringkali dipandang sebagai urusan pribadi, padahal dampaknya sangat terasa dalam operasional bisnis sehari-hari, mulai dari produktivitas hingga kualitas pengambilan keputusan. Alhasil, kesehatan finansial karyawan menjadi risiko bisnis “tersembunyi” yang dampaknya bisa signifikan,” ujar CEO FINETIKS, Cameron Goh
Dalam jangka panjang, tekanan ini juga meningkatkan risiko turnover dan menciptakan “biaya tersembunyi” yang jarang tercatat dalam laporan kinerja.
“Dampaknya terhadap perusahaan tidak bisa diabaikan. Karyawan yang mengalami tekanan finansial cenderung menghadapi kesulitan dalam berkonsentrasi, mengambil keputusan, hingga berkolaborasi secara optimal. Dalam banyak kasus, kondisi ini memicu fenomena “presenteeism”, di mana karyawan tetap hadir bekerja namun tidak sepenuhnya produktif. Dalam jangka panjang, situasi ini juga berpotensi meningkatkan risiko turnover yang menciptakan biaya produktivitas tersembunyi yang tidak terlihat dalam laporan kinerja, serta tidak tercapainya target perusahaan akibat rendahnya produktivitas,” imbuh Cameron.
Menariknya, tekanan finansial ini bahkan terjadi di sektor dengan literasi keuangan relatif baik. Artinya, pengetahuan saja tidak cukup. Tanpa sistem dan kebiasaan finansial yang kuat, masalah akan terus berulang.
Baca juga: Mayoritas Orang Indonesia Tidak Punya Tabungan, Manulife Luncurkan MDWA
Karena itu, pendekatan financial wellness perlu berevolusi. Bukan lagi sekadar edukasi, tapi solusi yang mendorong perubahan perilaku—mulai dari pengelolaan arus kas, pembentukan dana darurat, hingga sistem tabungan otomatis dan pendampingan jangka panjang.
Menjawab kebutuhan tersebut, FINETIKS menghadirkan program MONEY BOSS: Employee Financial Wellness Program. Program ini dirancang untuk membantu karyawan mengimplementasikan strategi keuangan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
