Gen Z vs Senior? Ini Strategi HR Menang di Era AI
Jakarta, 29 April 2026 – Di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI), lanskap rekrutmen mulai bergeser. Sejumlah perusahaan diam-diam melirik profesional yang lebih senior karena dinilai memiliki pengalaman dan “wisdom” yang matang. Di sisi lain, pencari kerja muda—terutama Gen Z—mulai khawatir tertinggal.
Namun, masa depan dunia kerja bukan soal memilih salah satu. Organisasi yang mampu menggabungkan energi Gen Z dengan pengalaman profesional senior justru akan menjadi pemenang.
Hal ini mengemuka dalam episode perdana podcast Power Talks oleh JobStreet by SEEK. Dalam sesi tersebut, Dudi Arisandi, Chief People Officer tiket.com, membagikan perspektif tentang bagaimana pemimpin HR dapat menjembatani kesenjangan generasi di era AI.
Baca juga: 56% Karyawan Tanpa Dana Darurat, Perusahaan Ikut Menanggung Beban
Rekrut Berbasis Skill, Bukan Label
Menurut Dudi, masalah utama di pasar tenaga kerja bukan sekadar jumlah talenta, melainkan ketidaksesuaian skill dengan kebutuhan industri.
“Perusahaan yang progresif mulai meninggalkan indikator prestise seperti usia atau almamater, dan beralih ke kemampuan nyata kandidat,” ujarnya. Artinya, proses rekrutmen perlu difokuskan pada capability yang benar-benar relevan, bukan sekadar latar belakang.
Stop Menyalahkan Gen Z
Label seperti “manja” atau “sulit di-manage” terhadap Gen Z dinilai kontraproduktif. Dudi menekankan pentingnya perubahan pendekatan: dari menyalahkan menjadi membimbing. “Stop blaming, start helping,” tegasnya.
Ia menilai, tantangan terbesar justru ada pada soft competency seperti komunikasi, kolaborasi, hingga pengambilan keputusan—yang hanya bisa berkembang lewat coaching dan pengalaman, bukan kritik semata.
Reverse Mentoring Jadi Kunci
Perbedaan generasi bukan hambatan, melainkan peluang. Profesional senior membawa intuisi dan pengalaman, sementara Gen Z unggul dalam literasi digital dan kreativitas.
Dudi bahkan mengakui dirinya belajar tools seperti Canva dari timnya. Karena itu, ia mendorong perusahaan mengadopsi reverse mentoring secara formal—di mana senior dan junior saling belajar dan melengkapi.
Hard Skill Saja Tak Cukup
Di era AI, banyak pekerjaan administratif dan repetitif mulai tergantikan. Nilai tambah manusia kini bergeser ke kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan.
“Yang makin penting adalah judgement—kemampuan memahami konteks dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan data dan sisi kemanusiaan,” jelas Dudi.
Baca juga: Transformasi HR di Era AI: DataOn Dorong Organisasi Lebih Human dan Adaptif
Perusahaan pun perlu menyesuaikan indikator kinerja, tidak lagi hanya berfokus pada tools atau sertifikasi.
Strategi 5B untuk Workforce Tangguh
Untuk membangun SDM yang adaptif, Dudi memperkenalkan kerangka “5B”: Build (mengembangkan talenta internal), Buy (merekrut dari luar), borrow (memanfaatkan gig worker atau outsourcing), bridging (rotasi lintas fungsi), dan Bot (otomasi dengan teknologi)
Pendekatan ini memastikan organisasi tidak bergantung pada satu kelompok generasi saja. “Teknologi dan AI akan terus mengubah cara kita bekerja, tapi yang tidak berubah adalah nilai dari manusia yang mau belajar dan berkolaborasi. Kuncinya bukan memilih antara talenta muda atau senior, melainkan bagaimana menggabungkan keduanya,” pungkas Dudi.
