AI Mulai Mengubah Cara Jaringan Seluler Bekerja
Jakarta, 15 Juni 2026 – Perkembangan layanan berbasis kecerdasan buatan (AI) membuat kebutuhan terhadap jaringan digital semakin kompleks. Bukan hanya soal kecepatan, jaringan masa depan dituntut mampu beradaptasi, mengelola trafik secara lebih efisien, hingga mengoptimalkan penggunaan energi.
Perubahan inilah yang mendorong hadirnya konsep jaringan akses radio (Radio Access Network/RAN) berbasis AI. Teknologi ini memungkinkan kecerdasan buatan bekerja langsung di dalam infrastruktur jaringan untuk membantu meningkatkan performa dan efisiensi operasional.
Dalam konteks Indonesia, kebutuhan terhadap jaringan yang lebih cerdas semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan layanan digital. Pertumbuhan ekosistem 5G, kebutuhan industri, hingga aplikasi berbasis data besar membuat operator perlu mencari cara baru untuk mengoptimalkan infrastruktur yang sudah tersedia.
Salah satu pendekatan yang berkembang adalah integrasi AI langsung ke dalam jaringan radio melalui pembaruan perangkat lunak. Pendekatan ini memungkinkan operator meningkatkan kemampuan jaringan tanpa harus selalu melakukan perubahan besar pada infrastruktur fisik.
Nora Wahby, President Director Ericsson Indonesia, mengatakan bahwa meningkatnya adopsi AI di berbagai sektor turut menciptakan kebutuhan baru terhadap konektivitas, kinerja jaringan, dan otomatisasi.
“AI menjadi pendorong utama inovasi di berbagai industri, dan menciptakan kebutuhan baru untuk konektivitas, kinerja, dan otomasi. Dengan AI in RAN, kami membantu penyedia layanan memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi jaringan dan relevansi jangka panjang, serta membantu operator memenuhi permintaan data yang lebih besar di tengah tantangan investasi,” ujar Nora.
Ia menambahkan, penguatan jaringan berbasis AI juga diharapkan dapat mendukung agenda transformasi digital Indonesia melalui fondasi konektivitas yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan.
Dari Jaringan Otomatis Menuju Jaringan Adaptif
Berbeda dengan sistem jaringan konvensional yang bergantung pada pengaturan manual, jaringan berbasis AI dirancang untuk mampu mengambil keputusan secara lebih cepat berdasarkan data yang tersedia.
Teknologi ini memanfaatkan model AI khusus telekomunikasi yang dapat memproses informasi secara real-time untuk membantu mengoptimalkan berbagai aspek jaringan, mulai dari pengaturan sumber daya, kualitas sinyal, hingga prediksi kebutuhan kapasitas.
Sejumlah kemampuan yang dikembangkan mencakup pengaturan jaringan secara otomatis melalui AI-native Scheduler, peningkatan akurasi lokasi pengguna, optimalisasi kualitas sinyal, serta pemantauan performa jaringan yang lebih mendalam.
Dalam sejumlah implementasi dan uji coba global, teknologi berbasis AI tersebut diklaim mampu meningkatkan kecepatan downlink hingga 20 persen, efisiensi spektrum hingga 10 persen, serta mendukung lebih banyak pengguna dengan trafik tinggi.
Bagi industri telekomunikasi, langkah ini menunjukkan bahwa masa depan konektivitas tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa luas jaringan dibangun, tetapi juga seberapa pintar jaringan tersebut mengelola dirinya sendiri.
Ketika kebutuhan digital terus meningkat, kemampuan jaringan untuk belajar, beradaptasi, dan bekerja lebih efisien akan menjadi salah satu faktor penting dalam menghadirkan pengalaman digital yang lebih stabil bagi masyarakat.
