Allianz Indonesia Kelola AUM Rp43,7 Triliun, Siapkan Strategi Investasi Lebih Selektif di 2026
Jakarta, 7 Mei 2026 — Allianz Indonesia mencatatkan total dana kelolaan atau asset under management (AUM) sebesar Rp43,7 triliun sepanjang 2025. Nilai tersebut tumbuh 9,8 persen secara tahunan di tengah volatilitas pasar global dan perubahan arah kebijakan moneter dunia.
Pertumbuhan dana kelolaan itu ditopang kinerja pasar saham dan obligasi domestik yang solid sepanjang 2025, seiring stabilnya konsumsi domestik, inflasi yang terkendali, serta meningkatnya dominasi investor lokal di pasar modal.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, Allianz Indonesia—yang mencakup Allianz Life, Allianz Syariah, dan DPLK Allianz—mengelola investasi pada 49 jenis unit link fund sepanjang tahun lalu. Tiga produk dengan dana kelolaan terbesar yakni Smartlink Equity sebesar Rp5,8 triliun, Smartlink Fixed Income Rp1,7 triliun, dan Smartlink Balanced Rp1,4 triliun.
Baca juga: Di Tengah Ketidakpastian, Generali Tawarkan Asuransi Jiwa Unit Link yang Lebih Lentur
Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia, Ni Made Daryanti, mengatakan perusahaan tetap mengedepankan pendekatan investasi yang disiplin dan adaptif untuk menjaga keseimbangan antara risiko dan imbal hasil.
“Di tengah volatilitas global sepanjang 2025, Allianz Indonesia tetap berfokus pada konsistensi pengelolaan dana kelolaan nasabah dengan pendekatan investasi yang disiplin dan adaptif, sejalan dengan karakteristik bisnis asuransi yang berorientasi jangka panjang,” ujar Ni Made.
Menurut dia, ketahanan ekonomi domestik dan likuiditas pasar menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas portofolio investasi perusahaan sepanjang tahun lalu.
Sepanjang 2025, IHSG ditutup menguat 22,13 persen ke level 8.646,94. Sementara pasar obligasi juga mencatat kinerja positif dengan INDOBeX Government Index tumbuh 12,43 persen secara tahunan. Di pasar syariah, Jakarta Islamic Index naik 22,13 persen dan IBPA Government Sukuk Index menguat 10,76 persen.
Memasuki 2026, Allianz Indonesia menilai peluang pasar tetap terbuka, namun strategi investasi akan dilakukan lebih selektif di tengah tingginya dinamika global.
Perusahaan akan memprioritaskan aset berkualitas, pengelolaan risiko yang lebih terukur, serta menjaga fleksibilitas likuiditas untuk menopang kinerja portofolio jangka panjang.
“Memasuki 2026, kami mempersiapkan strategi yang lebih selektif dengan menekankan kualitas aset dan pengelolaan risiko yang terukur, agar tetap selaras dengan tujuan keuangan jangka panjang nasabah,” kata Ni Made.
Baca juga: IFG Life & Mandiri Inhealth Bayar Klaim Rp10,7 Triliun Sepanjang 2025
Allianz juga melihat sejumlah sektor masih memiliki prospek menarik pada 2026, terutama saham-saham berkapitalisasi besar yang didukung investor domestik serta instrumen pasar uang yang dinilai tetap atraktif di tengah likuiditas yang memadai.
Di sisi lain, perusahaan tetap mewaspadai volatilitas global yang dipengaruhi arah suku bunga, inflasi, kebijakan perdagangan internasional, hingga perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Allianz menilai diversifikasi dan penyesuaian alokasi aset sesuai profil risiko nasabah menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara proteksi dan investasi.
“Diversifikasi tetap menjadi kunci, dan pemilihan instrumen perlu selaras dengan profil risiko agar tujuan proteksi dan investasi berjalan seimbang dalam jangka panjang,” ujar Ni Made.
