Dari Hutan Digital hingga Kuliner Tradisional, Ini Daya Tarik Desa Wisata Bakti BCA di Belitung
Jakarta, 11 Mei 2026 – Belitung selama ini dikenal lewat pantai berpasir putih dan batu granit raksasanya. Namun di balik pesona wisata mainstream tersebut, terdapat desa-desa wisata berbasis masyarakat yang mulai menarik perhatian wisatawan. Melalui program Desa Bakti BCA, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mendorong desa binaan di Bangka Belitung untuk berkembang menjadi destinasi wisata mandiri berbasis keberlanjutan, mulai dari wisata alam Bukit Peramun hingga pengalaman budaya di Desa Wisata Kreatif Terong.
Bagi wisatawan yang ingin mencari pengalaman berbeda di Belitung, Bukit Peramun menjadi salah satu destinasi yang layak masuk daftar kunjungan. Berlokasi di pusat segitiga pariwisata Belitung—dekat Tanjung Pandan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang, hingga Bandara H.A.S. Hanandjoeddin—kawasan ini menawarkan panorama hutan alami, hamparan batu granit khas Belitung, serta pemandangan Laut Cina Selatan dari ketinggian 129 meter di atas permukaan laut.
Baca juga: Hear in Hijab, Inovasi Wardah untuk Perempuan Berhijab dengan Gangguan Pendengaran
Lebih dari sekadar wisata alam, Bukit Peramun menjadi contoh pengelolaan wisata berbasis masyarakat. Sejak 2006, kawasan ini dikelola secara mandiri oleh kelompok Hutan Kemasyarakatan Arsel, sebelum akhirnya dibuka untuk wisata publik pada 2017 dengan konsep community-based tourism yang mengedepankan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan warga sekitar.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan dukungan terhadap Desa Bakti BCA merupakan bagian dari upaya memperkuat ekonomi lokal sekaligus meningkatkan daya tarik destinasi wisata daerah.
“Kami senantiasa mendorong desa-desa binaan Bakti BCA untuk menonjolkan karakteristik yang dimiliki. Semoga dukungan kami dapat memberikan kontribusi positif bagi perekonomian lokal serta manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujar Hera.
Konsistensi pengelolaan tersebut berbuah pengakuan nasional. Pada 2023, Bukit Peramun resmi dinobatkan sebagai hutan digital pertama berbasis masyarakat di Indonesia oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penghargaan ini diberikan berkat inovasi digital yang diterapkan dalam pengelolaan wisata, termasuk kehadiran virtual assistant berbasis Android dan virtual guide dalam bahasa Indonesia serta Inggris untuk memperkenalkan flora kawasan kepada pengunjung.
Pengalaman wisata di Bukit Peramun juga menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan di tempat lain yakni menyaksikan primata nokturnal Tarsius di habitat aslinya. Jika datang menjelang sore, wisatawan dapat menikmati trekking ringan, berburu panorama matahari terbenam, hingga melihat langit malam bertabur bintang.
Tak heran, destinasi ini semakin diminati wisatawan mancanegara. Data pengelola menunjukkan jumlah turis asing meningkat dari sekitar 387 orang pada 2023 menjadi 485 wisatawan pada 2025. Sementara wisatawan domestik mencapai 1.648 orang sepanjang 2025, naik dibanding tahun sebelumnya sebanyak 1.356 pengunjung.
Selain Bukit Peramun, pengalaman berbeda juga bisa ditemukan di Desa Wisata Kreatif Terong, yang berada di pesisir utara Kabupaten Belitung. Desa ini berhasil menyulap bekas tambang timah menjadi kawasan wisata produktif berbasis edukasi dan ekonomi kreatif.
Baca juga: Dari Minuman Tradisional hingga Agrowisata, Cerita Pendampingan UMKM Lokal
Salah satu daya tarik utamanya adalah Wisata Aik Rusa Berehun, kawasan hasil reklamasi swadaya masyarakat yang kini dilengkapi fasilitas UMKM, area pertunjukan seni, hingga lokasi memancing ikan seperti nila, lele, dan patin.
Namun, pengalaman paling khas di Desa Terong mungkin datang dari tradisi makan bedulang—ritual makan bersama khas Belitung yang sarat nilai kebersamaan. Dalam tradisi ini, empat orang duduk bersila mengelilingi satu dulang atau nampan besar, menikmati sajian khas seperti gangan ikan, ikan bakar, sambal serai, hingga lalapan. Tak sekadar makan bersama, tradisi ini juga mengajarkan etika, termasuk mendahulukan orang yang lebih tua.
BCA menilai pengembangan desa wisata tidak cukup hanya menghadirkan destinasi menarik, tetapi juga perlu memastikan masyarakat sekitar memperoleh manfaat ekonomi berkelanjutan. Karena itu, pada 2026, Desa Wisata Kreatif Terong juga dipilih sebagai lokasi program Genera-Z Berbakti, pengabdian masyarakat bagi mahasiswa untuk membawa inovasi baru agar desa wisata semakin berkembang.
