Gen Z Siap Memimpin Tapi Gaji Jadi Penghalang

Jakarta, 18 Juni 2026 – Di tengah perubahan lanskap dunia kerja, posisi manajer tingkat menengah mulai menghadapi tantangan baru. Bukan hanya soal mencari kandidat yang tepat, tetapi juga bagaimana membuat peran tersebut tetap menarik bagi generasi pekerja muda.

Riset terbaru Robert Walters menunjukkan, sebanyak 68% perusahaan di Indonesia mulai mengalami kesulitan mengisi posisi manajer tingkat menengah atau memperkirakan tantangan tersebut akan muncul dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Di sisi lain, profesional Gen Z sebenarnya tidak menutup diri terhadap jalur kepemimpinan. Sebanyak 75% responden dari kelompok ini melihat posisi manajer tingkat menengah sebagai tahapan penting dalam perjalanan karier mereka. Namun, banyak yang masih ragu mengambil langkah tersebut karena menilai imbalan yang diterima belum sebanding dengan tanggung jawab yang harus dipikul.

Fenomena ini sejalan dengan tren global yang disebut Conscious Unbossing, yakni kecenderungan sebagian profesional muda untuk tidak terburu-buru mengejar posisi manajerial. Di Indonesia, persoalannya bukan semata soal keengganan memimpin, melainkan adanya jarak antara ekspektasi pekerja muda dengan realitas peran manajemen saat ini.

Jabatan Manajer Tidak Lagi Menjadi Magnet

Bagi sebagian Gen Z, gambaran mengenai posisi manajer terbentuk dari apa yang mereka lihat sehari-hari di lingkungan kerja. Hanya 27% responden yang menggambarkan manajer mereka saat ini sebagai sosok pemimpin inspiratif yang ingin mereka tiru.

Sebaliknya, 33% melihat manajer sebagai pekerja yang terus berada dalam tekanan atau memiliki beban kerja berlebihan. Sementara itu, 27% lainnya menilai manajer sering memegang tanggung jawab besar tetapi memiliki kewenangan terbatas untuk mengambil keputusan.

Kondisi tersebut membuat banyak profesional muda mempertanyakan apakah kenaikan jabatan benar-benar memberikan peningkatan kualitas karier, atau justru menambah tekanan tanpa dukungan yang memadai.

“Iming-iming korporat tradisional—yaitu gelar manajer—tidak lagi memiliki bobot yang sama bagi profesional muda di Indonesia. Gen Z ingin memimpin, tetapi mereka melihat tekanan yang dihadapi oleh para manajer tingkat menengah saat ini,” ujar Eric Mary, Country Head Robert Walters Indonesia.

Menurutnya, perusahaan perlu melihat lebih jauh alasan di balik keraguan tersebut. “Mereka ragu untuk melangkah maju kecuali jika imbalan finansial yang diberikan sebanding dengan tanggung jawabnya. Perusahaan tidak bisa menyelesaikan masalah kecemasan finansial atau beban kerja ini hanya dengan selembar sertifikat pelatihan.”

Kompensasi Menjadi Faktor Penentu

Salah satu persoalan terbesar berada pada kesenjangan antara harapan kandidat dan strategi perusahaan.

Dari profesional Gen Z yang masih ragu mengambil posisi manajemen, 64% menyebut kompensasi lebih tinggi sebagai faktor utama yang dapat mengubah keputusan mereka. Faktor lain yang dipertimbangkan adalah kewenangan mengambil keputusan yang lebih jelas (38%) serta keseimbangan kehidupan dan pekerjaan yang lebih baik (24%).

Namun, dari sisi perusahaan, hanya 38% yang menyatakan sedang meninjau ulang paket gaji dan insentif. Sebagian besar organisasi masih berfokus pada penyediaan jalur promosi yang lebih jelas (69%) dan program pengembangan kepemimpinan (62%).

Michelle Tanjung, Associate Director Robert Walters Indonesia, mengatakan bahwa keputusan Gen Z terkait karier juga dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi yang mereka hadapi.

“Kita harus melihat realitas lokal. Banyak profesional muda di Indonesia yang harus menyeimbangkan ekspektasi finansial keluarga yang besar bersamaan dengan karier mereka. Mereka sangat terdorong untuk mencapai mobilitas sosial ke atas, tetapi mereka juga sangat pragmatis,” katanya.

Menurut Michelle, ketika pekerja muda melihat manajer saat ini harus memenuhi tuntutan eksekutif senior sekaligus menjaga tim di bawahnya tanpa kompensasi yang sesuai, wajar jika mereka memilih menunggu peluang yang lebih baik.

“Untuk mengamankan jalur kepemimpinan di masa depan, bisnis perlu meninjau kembali struktur kompensasi mereka dan memastikan peran tingkat menengah diberdayakan dengan otonomi yang nyata,” ujarnya.

Tantangan bagi Regenerasi Kepemimpinan

Persoalan kekurangan manajer tingkat menengah bukan hanya berdampak pada kebutuhan tenaga kerja saat ini, tetapi juga keberlanjutan kepemimpinan perusahaan di masa depan.

Sebanyak 64% perusahaan menyebut penguatan pipeline manajer tingkat menengah penting untuk mendukung perencanaan suksesi menuju posisi senior. Namun, 36% organisasi di Indonesia mengaku belum mengambil langkah untuk mengatasi kesenjangan tersebut.

Robert Walters menilai ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian perusahaan yakni memperbaiki struktur kompensasi, mendesain ulang peran manajer agar memiliki kewenangan yang jelas, serta meningkatkan visibilitas dan apresiasi terhadap pemimpin tingkat menengah yang sudah ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *