Peneliti Peringatkan Krisis Perikanan Akibat Pemanasan Global

Jakarta, 4 Juni 2026 – Selama ini banyak orang menganggap laut sebagai sumber daya yang nyaris tak terbatas. Namun, penelitian terbaru menunjukkan kenyataan yang berbeda. Perubahan iklim tidak hanya mengubah suhu laut, tetapi juga mengubah cara ikan tumbuh, berkembang biak, dan bertahan hidup. Dampaknya bisa dirasakan langsung oleh jutaan nelayan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Riset terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science menemukan bahwa perubahan iklim berpotensi menurunkan hasil tangkapan perikanan global, bahkan ketika ikan berhasil beradaptasi dengan lingkungan yang semakin hangat.

Temuan tersebut berasal dari penelitian para ilmuwan Monash University yang mengembangkan model baru untuk memprediksi bagaimana ikan berevolusi sebagai respons terhadap pemanasan global. Berbeda dengan studi sebelumnya yang hanya melihat dampak kenaikan suhu terhadap populasi ikan, penelitian ini turut memperhitungkan proses evolusi yang terjadi dari waktu ke waktu.

Baca juga: Ekonomi Biru Indonesia Jadi Penentu Arah Baru Kawasan

Bagi Indonesia, temuan tersebut menjadi perhatian penting. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, sektor kelautan dan perikanan tidak hanya berperan dalam menjaga ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat pesisir.

Di Indonesia, sektor kelautan menyumbang lebih dari US$ 180 miliar (sekitar Rp 3 triliun) per tahun melalui perikanan, pariwisata bahari, transportasi laut, serta berbagai industri berbasis laut lainnya.

Meski memiliki potensi besar, perikanan tangkap Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain tekanan eksploitasi sumber daya, perubahan iklim kini menjadi faktor yang sulit dihindari.

Menurut Profesor Craig White, Head of the School of Biological Sciences Monash University, pemanasan global mendorong ikan tumbuh lebih cepat dan mencapai kematangan lebih dini. Namun, proses tersebut memiliki konsekuensi yang tidak menguntungkan bagi industri perikanan.

“Perubahan evolusi ini berdampak baik bagi kelangsungan ikan, tetapi kurang baik bagi nelayan dan industri perikanan. Evolusi membantu ikan mengurangi dampak pemanasan global terhadap kondisi fisik mereka, tetapi memiliki pengaruh yang buruk terhadap kelestarian hasil tangkapan,” ujarnya.

Dengan kata lain, ikan mungkin tetap mampu bertahan hidup, tetapi ukuran dan jumlah yang dapat ditangkap nelayan berpotensi berkurang.

Penelitian tersebut memprediksi bahwa setiap kenaikan suhu global akan berdampak pada penurunan produksi perikanan. Bahkan dalam skenario tertentu, sektor perikanan dapat kehilangan hingga 50 persen hasil tangkapan maupun pendapatan akibat perubahan biologis yang terjadi pada populasi ikan.

Profesor White menegaskan bahwa kebijakan iklim yang efektif masih dapat mengurangi dampak tersebut.

Banjir dan Longsor Tak Lagi Kebetulan, Ada yang Salah pada Cara Kita Mengelola Hutan

“Setiap kenaikan satu derajat suhu bumi diperkirakan akan menurunkan produksi perikanan. Di sisi lain, kebijakan iklim yang baik, yang membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius, berpotensi menjaga jutaan ton hasil perikanan yang dikhawatirkan hilang,” katanya.

Senada dengan itu, Profesor Dustin Marshall dari Marine Evolutionary Ecology Research Group Monash University mengingatkan bahwa kemampuan spesies untuk beradaptasi tidak selalu berarti manusia akan terhindar dari dampak perubahan iklim.

“Banyak yang beranggapan bahwa evolusi akan mengurangi dampak perubahan iklim. Hal itu memang benar untuk kelangsungan hidup spesies, tetapi sebaliknya dapat memperburuk kondisi layanan ekosistem,” ujarnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan ekonomi dan sosial. Berkurangnya hasil tangkapan dapat memengaruhi pendapatan nelayan, pasokan protein bagi masyarakat, hingga stabilitas ekonomi wilayah pesisir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *