Piala Dunia 2026 Kurang Gereget Dibanding Era Sebelumnya? Ini Faktor-Faktornya

Jakarta, 13 Mei 2026 – Ada sesuatu yang terasa berbeda menjelang Piala Dunia 2026. Biasanya, satu tahun atau bahkan berbulan-bulan sebelum kick-off, atmosfer turnamen sepak bola terbesar dunia sudah terasa di mana-mana. Iklan televisi penuh nuansa sepak bola, jingle khas Piala Dunia mulai terdengar, merek-merek berlomba membuat kampanye, dan obrolan warung kopi mulai dipenuhi prediksi juara.

Namun kali ini, gaungnya terasa belum sekuat edisi-edisi sebelumnya. Padahal, secara skala, Piala Dunia 2026 justru akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.  Ada 48 negara peserta, 104 pertandingan, dan digelar lintas tiga negara tuan rumah—Amerika Serikat, Kanada, serta Meksiko. Tapi justru di tengah ekspansi besar itu, muncul pertanyaan, apakah Piala Dunia 2026 kehilangan “gereget”-nya?

1. Hak Siar yang Tak Lagi Diperebutkan Sengit

Salah satu indikator paling menarik adalah persoalan hak siar. Di masa lalu, hak siar Piala Dunia menjadi rebutan stasiun televisi besar. Kompetisi antarpenyiar membuat promosi dilakukan jauh-jauh hari. Televisi swasta membangun hype lewat countdown, iklan kreatif, program khusus, hingga talent dan komentator eksklusif.

Baca juga: Hear in Hijab, Inovasi Wardah untuk Perempuan Berhijab dengan Gangguan Pendengaran

Kini situasinya berubah. Menurut The Guardian, FIFA bahkan dilaporkan kesulitan menjual hak siar di dua pasar raksasa, India dan China. Di India, harga yang awalnya dipatok sekitar US$100 juta disebut turun drastis karena minim peminat. Sementara di China, negosiasi juga berjalan alot setelah broadcaster tidak bersedia membayar setinggi ekspektasi FIFA.

Kondisi ini cukup mengejutkan mengingat China dan India adalah dua negara dengan populasi terbesar dunia—pasar yang seharusnya menjadi tambang emas audiens.

Ada banyak faktor mengapa gelaran Piala Dunia terkesan adem di negara berpenduduk terbesar di dunia itu : dominasi kriket di India, performa tim nasional yang kurang kompetitif di China, perbedaan zona waktu, hingga broadcaster yang makin berhitung secara bisnis. Ketika broadcaster tidak agresif mengejar hak siar, otomatis efek pemasaran ikut mengecil.

2. Di Indonesia, Disiarkan TVRI: Gratis, Tapi Tak Seheboh Era TV Swasta

Di Indonesia, Piala Dunia 2026 akan disiarkan oleh TVRI, televisi publik non-komersial. TVRI dikabarkan memegang hak siar seluruh pertandingan secara gratis untuk masyarakat Indonesia. (tvri.go.id)

Di satu sisi, ini kabar baik karena akses menjadi lebih inklusif. Namun di sisi lain, publik juga membandingkannya dengan era ketika hak siar dipegang televisi swasta. Dulu, stasiun TV komersial punya insentif besar untuk “menggoreng” momentum Piala Dunia demi rating dan iklan.

Mulai dari promo masif, iklan bertema sepak bola, kuis berhadiah, program debat, countdown, sampai aktivasi merek (brand activation)—semuanya membuat atmosfer terasa hidup bahkan sebelum turnamen dimulai.

Kini, hype terasa lebih organik dan tersebar di media sosial, bukan lagi “disuntik” secara agresif oleh industri televisi seperti era 2000-an hingga awal 2010-an.

3. Faktor Politik dan Geopolitik Ikut Membayangi

Piala Dunia 2026 juga berlangsung di tengah tensi geopolitik global yang tidak sederhana Salah satu sorotan adalah status Iran. Sebagaimana dilaporkan Reuters, ,meski lolos kualifikasi, dinamika politik internasional dan hubungan diplomatik dengan Barat terus menjadi perhatian menjelang turnamen di Amerika Serikat. Isu visa, keamanan, dan kebijakan lintas negara menjadi variabel yang sebelumnya tidak terlalu dominan dalam narasi Piala Dunia.

Di luar Iran, situasi geopolitik global—mulai dari konflik regional, fragmentasi ekonomi dunia, hingga meningkatnya tensi antarnegara besar—turut memengaruhi mood publik global.

Baca juga: Dampak Perang Iran Konsumen Malaysia Siap Kurangi Belanja dan Perjalanan

Piala Dunia biasanya menjadi panggung persatuan global. Tapi di era polarisasi politik dan perang informasi saat ini, perhatian publik juga terpecah oleh banyak isu lain.

4. Format 48 Negara: Lebih Inklusif, Tapi Kualitas Dipertanyakan

Inilah faktor yang paling sering diperdebatkan. Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama dengan 48 negara peserta, naik signifikan dari 32 tim. FIFA menilai ekspansi ini membuat turnamen lebih inklusif dan membuka peluang negara-negara baru tampil di panggung dunia.

Namun kritik juga bermunculan. Sebagian penggemar menilai terlalu banyak peserta berpotensi mengurangi kualitas pertandingan, terutama di fase grup. Kekhawatiran muncul bahwa akan ada lebih banyak laga timpang dan pertandingan yang kurang kompetitif. Bahkan sejumlah akademisi olahraga menyoroti risiko meningkatnya pertandingan “tidak menentukan” dalam format baru.

Dulu, lolos ke Piala Dunia terasa sangat eksklusif. Kini, dengan slot yang jauh lebih besar, ada persepsi—benar atau tidak—bahwa gengsi turnamen sedikit berkurang. Meski demikian, argumen sebaliknya juga kuat: lebih banyak negara berarti lebih banyak cerita kejutan, basis fans baru, dan peluang munculnya “kuda hitam” baru.

5. Piala Dunia Tak Lagi Jadi Satu-Satunya Magnet Hiburan Global

Ada faktor lain yang sering luput yaitu perubahan perilaku audiens. Era Piala Dunia 2002, 2006, atau 2010 adalah masa ketika televisi masih menjadi pusat hiburan. Kini, perhatian publik terpecah ke streaming, media sosial, creator economy, hingga hiburan berbasis algoritma.

Kompetisinya bukan lagi hanya antar olahraga, tapi antar perhatian (attention economy). Bahkan generasi muda kini lebih sering melihat highlight 30 detik di TikTok ketimbang menonton 90 menit penuh.

Jadi, Benarkah Kurang Gereget? Jawabannya tergantung perspektif. Secara bisnis dan atmosfer global, ada tanda-tanda bahwa hype Piala Dunia 2026 memang berbeda dibanding era sebelumnya—terutama karena dinamika hak siar, perubahan media, dan ekspansi peserta.

Namun di sisi lain, sejarah selalu menunjukkan bahwa begitu bola pertama ditendang, Piala Dunia hampir selalu berhasil menciptakan dramanya sendiri. Karena pada akhirnya, satu gol menit 90, kejutan tim kecil, atau tangisan pemain di final sering kali cukup untuk menghidupkan kembali sihir yang membuat Piala Dunia tetap menjadi tontonan terbesar di planet ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *