Studi IBM: CEO di Indonesia Jadikan AI Prioritas Strategis untuk Transformasi Bisnis

• 90% CEO di Indonesia aktif mengintegrasikan AI ke berbagai alur kerja perusahaan
• 80% CEO di Indonesia menilai AI mengubah cara perusahaan mendefinisikan inti bisnis mereka
• 75% CEO di Indonesia percaya keberhasilan AI lebih ditentukan oleh adopsi manusia dibanding teknologinya sendiri

Jakarta, 20 Mei 2026 – CEO di Indonesia semakin agresif mendorong penerapan artificial intelligence (AI) sebagai bagian inti dari strategi bisnis perusahaan. Hal ini terungkap dalam studi terbaru IBM Institute for Business Value yang melibatkan CEO global, termasuk para pemimpin bisnis di Indonesia.

Hasil survei menunjukkan, bahwa AI kini tidak lagi dipandang sebagai teknologi pendukung semata, tetapi telah menjadi faktor utama dalam transformasi bisnis dan pengambilan keputusan strategis di berbagai organisasi.

Baca juga: Canva dan Komdigi Perkuat Talenta Digital Indonesia

Sebanyak 90% CEO di Indonesia yang disurvei menyatakan mereka secara aktif mengintegrasikan AI ke berbagai alur kerja untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional perusahaan. Bahkan, 80% responden menilai AI telah mengubah cara perusahaan mendefinisikan inti bisnis mereka.

Selain itu, 30% CEO di Indonesia menempatkan AI dan modernisasi teknologi sebagai prioritas strategis organisasi dalam tiga tahun ke depan.

Tingkat kepercayaan terhadap AI juga terlihat semakin tinggi. Sebanyak 65% CEO di Indonesia mengaku nyaman mengambil keputusan strategis besar berdasarkan masukan yang dihasilkan AI.

Di sisi lain, 65% responden juga menilai kedaulatan AI (AI sovereignty) menjadi bagian penting dalam strategi bisnis, menegaskan pentingnya pengendalian dan tata kelola AI yang tepat.

Meski demikian, penerapan AI masih menghadapi tantangan dari sisi adopsi sumber daya manusia. Para CEO menyebut baru sekitar 26% tenaga kerja yang menggunakan AI secara rutin dalam pekerjaannya, walaupun 80% percaya karyawan mereka telah memiliki kemampuan untuk berkolaborasi dengan AI.

Baca juga: J&T Express Rilis Laporan ESG 2025, Dorong Logistik Berkelanjutan dengan Teknologi

Sebanyak 75% CEO di Indonesia juga menyatakan keberhasilan implementasi AI lebih ditentukan oleh tingkat adopsi manusia dibandingkan teknologinya sendiri. Karena itu, perusahaan mulai mempersiapkan transformasi tenaga kerja secara lebih serius. Antara 2026 hingga 2028, para responden memperkirakan sekitar 30% karyawan perlu menjalani pelatihan keterampilan baru untuk menjalankan peran yang berbeda, sementara 52% membutuhkan peningkatan keterampilan agar dapat menjalankan pekerjaan mereka saat ini secara lebih efektif.

Perubahan ini juga mendorong transformasi di tingkat kepemimpinan perusahaan. Sebanyak 85% CEO di Indonesia menilai para pemimpin di setiap fungsi bisnis perlu memiliki pemahaman teknologi yang kuat di bidangnya masing-masing. Selain itu, 70% responden menilai peran kepemimpinan talenta dan teknologi akan semakin terintegrasi di masa depan.

“Para CEO di Indonesia terus mempercepat ambisi mereka dalam pemanfaatan AI, dengan melampaui tahap uji coba dan mulai menempatkan AI sebagai penggerak utama kepemimpinan, daya saing, serta kinerja bisnis,” tutur Catherine Lian, General Manager and Technology Leader, IBM ASEAN.

Yang menonjol bukan hanya tingkat kepercayaan mereka terhadap AI, tetapi juga bagaimana teknologi ini mulai diintegrasikan secara serius dan terukur ke dalam keputusan strategis maupun operasional sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa AI kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai eksperimen, melainkan telah menjadi prioritas bisnis,” lanjut Catherine.

Secara global, studi IBM juga menunjukkan bahwa organisasi mulai menata ulang struktur kepemimpinan dan operasional perusahaan seiring semakin luasnya penerapan AI di berbagai fungsi bisnis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *